Senin, 20 September 2021

SENI KUDA KEPANG WUJUD GELORA SUMPAH PEMUDA

 SENI KUDA KEPANG WUJUD GELORA SUMPAH PEMUDA

 Reog Ponorogo sudah begitu lama terdengar mendunia. Bahkan pernah diklaim oleh negara tetangga yakni Malaysia sebagai seni budaya miliknya. Selain Reog Ponorogo, ternyata kesenian tari yang menggunakan ornamen berasal dari anyaman bambu berbentuk kuda tersebut banyak sekali sebutan serta asalnya. Ada yang menyebutnya kuda kepang, kuda lumping, jaranan dan lain sebagainya. Di sebagian besar wilayah eks Karesidenan Banyumas, Pekalongan, maupun Kedu bagian Selatan dan sekitarnya masyarakat menyebutnya kesenian “Ebeg”. Ternyata kesenian ini tidak hanya berasal dari Ponorogo, melainkan dari sebagian besar Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan Jawa Barat. Bisa dikatakan bahwa kesenian kuda kepang adalah kesenian yang berasal dari  pulau Jawa.

Di balik maraknya kesenian kuda kepang, kuda lumping, jaranan maupun ebeg ataupun sebutan lainnya, yang menarik penulis untuk dibahas dalam hal ini adalah semangat persatuan dan kesatuan di balik kesenian kuda kepang tersebut. Seperti yang dapat kita jumpai di daerah kota dingin Curup, kota kecil yang merupakan Ibukota Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Ketika kita berkunjung di daerah ini, suatu saat akan ditemukan tontonan masyarakat bernama kuda kepang. Kesenian kuda kepang ini bila ditinjau asal usulnya yang berasal dari Jawa, untuk jarak di masa lampau ataupun masa penjajahan sangatlah jauh dari daerah asal kesenian ini. Ternyata dapat kesenian kuda kepang ini, dapat kita jumpai di sebagian besar Kabupaten Rejang Lebong ini baik di lingkungan yang mayoritas etnis Jawa atau lingkungan penduduk asli daerah ini.

Biasanya tontonan kuda kepang ini dipentaskan dalam rangka acara pesta. Baik itu pesta khitanan, perkawinan, dan mungkin juga syukuran atas kelahiran seorang anak. Nama-nama grup kesenian kuda kepang di daerah inipun bermacam-macam. Ada Turonggo Seto, Mekar Budhoyo, Trisno Budhoyo, Cempaka Mekar Sureja. Dari sekian beberapa nama kelompok kesenian kuda kepang yang tersebut, ada satu nama yang begitu unik menarik untuk dicermati. Sebut saja kesenian kuda kepang “Cempaka Mekar Sureja”. Kesenian kuda kepang ini berasal dari kelurahan Talang Benih Kecamatan Curup Kabupaten Rejang Lebong. Ternyata setelah ditelusuri kata “Sureja” merupakan akronim atau singkatan dari Sunda, Rejang, Jawa. Kelompok kesenian kuda kepang “Sureja” ini ternyata personilnya mulai dari penari, penabuh gamelan, dan pengurusnya adalah campuran dari generasi yang berasal dari nama-nama dalam kelompok tersebut yakni Sunda, Rejang dan Jawa. Adapun Rejang merupakan nama suku asli di daerah ini.

Selain kuda kepang sebagai sarana tontonan sekaligus bentuk kolaborasi budaya yang personilnya berlatar belakang multietnis, di Curup juga  berkembang seni budaya beraneka ragam, yang hidup berdampingan dengan budaya asli daerah ini. Meskipun di era digital generasi muda sudah mulai berkurang minatnya terhadap kesenian tradisional kuda kepang ini. Namun, ternyata tetap eksis dan sebagian warga keturunan Jawa dan sebagian pecintanya yang dari warga pribumi berusaha melestarikannya. Bahkan oleh Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, kesenian tradisional tersebut difestivalkan pada saat HUT kota Curup setiap tahunnya. Terkecuali dua tahun ini selama masa pandemi. Perayaan HUT kota Curup disederhanakan sesuai dengan situasi pandemi.

Selain seni budaya, di daerah ini bisa ditemui penutur bahasa sangat beragam. Bahasa Rejang sebagai bahasa asli tetap terlestarikan. Aksara Ka Ga Nga sebagai warisan budaya leluhur suku Rejang, bahkan dilestarikan dengan dimasukkannya dalam kurikulum pendidikan dasar SD/MI. Bahasa Rejang dan Lembak sebagai bahasa asli suku Rejang dan Lembak di daerah ini. Akan tetapi dalam masyarakat Rejang Lebong dapat ditemukan petutur Jawa, Sunda, Minang, Batak dan lain-lain sebagai bahasa asal mereka. Dan untuk sehari-hari komunikasi di antara warga yang multi etnis menggunakan bahasa Melayu dialek Curup. Asal-usul bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Artinya petutur bahasa Melayu dialek Curup juga sebagai petutur bahasa Indonesia. Artinya mereka dipersatukan dengan bahasa pengantar yang bisa dipahami bersama yakni bahasa Melayu.

Semangat kebersamaan tersebut sudah berlangsung sangat lama. Perbedaan budaya ternyata tidak menjadikan penghalang untuk bersatu bahu-membahu guna membangun daerah ini. Bhineka Tunggal Ika dapat terwujud dengan baik di setiap lapisan masyarakat daerah ini. Semangat bersatu melalui seni dan budaya ini sebagai perwujudan Sumpah Pemuda yang digelorakan tanggal 28 Oktober 1928. Semoga terus terpupuk, terbina dan lestari seiring derap langkah semangatnya generasi muda dalam mempertahankan gelora semangat Sumpah Pemuda di era globalisasi dan digitalisasi sekarang ini. Jayalah Indonesiaku, Jayalah Negeriku. Abadi untuk selama-lamanya.

 

 

 

Biodata Penulis

 

Basuki, lahir di Desa Peniron Kec.Pejagoan Kab.Kebumen Jawa Tengah. Menempuh pendidikan dari jenjang Pendidikan Dasar sampai Perguruan Tinggi, sebagai berikut: SDN Peniron I, SMPN 3 Kebumen, SPGN Kebumen (Jawa Tengah), DII Universitas Bengkulu, S1 Universitas Muhammadiyah Bengkulu, dan Pasca Sarjana di Universitas Bengkulu. Beralamat di Jln.Lingkar PP Nurul Kamal Ds.Karang Jaya Kec.Selupu Rejang Kab.Rejang Lebong Prov.Bengkulu. Berkarir sebagai tenaga pendidik sejak September 1994 hingga sekarang. Di pertengahan September 2016 dipercaya Pemerintah sebagai tenaga pendidik dan bertugas di SD Negeri 22 Rejang Lebong Provinsi Bengkulu sebagai guru kelas. Terima kasih, semoga bermanfaat. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  PESAN-PESANMU PENYEMANGAT PENGABDIANKU (The Power of Teaching)     Profesi Guru Kata guru ada yang mengartikan diguru lan ditiru...