Senin, 22 November 2021

 

PESAN-PESANMU PENYEMANGAT PENGABDIANKU

(The Power of Teaching)

 

 

Profesi Guru

Kata guru ada yang mengartikan diguru lan ditiru. Ada juga yang memberi arti miring wagu tur saru. Istilah digugu lan ditiru diambil dari bahasa jawa yang maknanya dapat dipercaya (digugu) dan dicontoh (ditiru). Hal ini berlaku bagi guru yang berperilaku baik dan layak untuk dicontoh. Guru yang bisa menjadi suri tauladan bagi siswa-siswinya, keluarga, dan masyarakat sekitarnya. Tetapi apabila seorang guru berpeilaku sebaliknya, suka judi, mabok-mabokan, melanggar aturan negara ataupun aturan adat istiadat yang berlaku di masyarakat, maka guru semacam ini layak menyandang gelar [az1] guru yang berarti wagu tur saru. Seorang guru yang disebut wagu karena tidak pantas untuk dicontoh. Apalagi jika seorang guru sudah melanggar aturan-aturan, norma, dan adat istiadat di masyarakat maka bisa disebut saru yang artinya tak beretika atau tak sopan.  Wagu tur saru bisa diartikan perbuatan yang tak pantas untuk dilakukan oleh kita, apalagi pendidik.

Guru, dia adalah pahlawan tanpa tanda, yang dahulu jasanya yang terkadang tidak diperhatikan [az2] bagaimana kehidupannya. Sekarang dengan adanya Undang-undang guru dan dosen guru menjadi profesi yang mulai dilirik oleh generasi muda. Semua orang hebat terlahir dengan  tak lepas dari jasa pendidik yakni guru. Seorang guru sebagai kunci utama dalam mencerdaskan anak bangsa. Profesi guru bukan hanya sekadar [az3] pekerjaan biasa yang hanya dimaknai dengan tugas untuk mendidik anak-anak bangsa pada pendidikan formal saja. Akan tetapi menjadi guru merupakan panggilan jiwa untuk membantu menyalakan pelita pengetahuan dan kebajikan dalam diri setiap anak bangsa. Peran guru sangat strategis di dalam pembangunan nasional karena guru sebagai sebuah profesi yang menciptakan masa depan melalui karakter dan keterampilan generasi penerus bangsa.  

Di antara [az4] ribuan guru, tentu beribu pula kisah perjalanan pengabdian keprofesiannya. Mulai dari guru yang mengabdi di perkotaan, pedesaan, pelosok, dan bahkan daerah perbatasan. Dari sekian ribu tenaga pendidik yang ada di negeri tercinta ini, salah satunya adalah  penulis yang dilahirkan di Peniron, nama sebuah desa di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

 

Perjuangaan Menggapai Harapan Orang Tua

Cerita berawal ketika usia remaja tamatan SMPN 3 Kebumen ini yang berkeinginan mengabdi di daerahnya sendiri agar bisa memenuhi kehendak orang tua agar tak jauh-jauh merantau seperti pada para pemuda sekampung pada umumnya. Di kampung ini dan kampung-kampung di Jawa pada umumnya pada waktu itu, bagi remaja seusiaku ketika tamat SMP yang tidak melanjutkan jenjang SMA maka rata-rata pergi mengadu nasib mengais rejeki ke kota besar seperti: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan sebagainya. Berbekal ilmu dan keterampilan seadanya, maka mereka mecoba mengadu nasib di kota tujuan dengan mengikuti ataupun diajak oleh sanak saudara yang merantau duluan. Dan biasanya menjelang lebaran mereka para perantau pulang kampung dengan membawa cerita beraneka ragam pula. Ada yang sukses, ada yang kurang beruntung, dan ada pula yang sama sekali tak mendapatkan pekerjaan sekedar numpang hidup di rumah saudara yang menetap di perantauan tersebut.

Orang tuaku berpikir [az5] sederhana untuk anak bungsu lelaki satu-satunya dari lima bersaudara. Hingga kini masih terngiang perkataan orang tuaku, “Nak, kowe mengko nek wis gedhe ora usah merantau ya. Nang ndesa bae, ngabdi nang desane dhewek (Nak, kamu nanti kalau sudah besar tak usah merantau ya. Di desa saja, mengabdi di desa sendiri).” kata orang tua dengan bahasa Jawa Ngapak logat Kebumen.

Setamat SMPN 3 Kebumen dan berbekal NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang tergolong lumayan kuputuskan mendaftar di dua sekolah lanjutan atas berbasis kejuruan. Pertama mendaftar di SMEAN Kebumen dan kedua di SPGN Kebumen. SMEAN adalah Sekolah Menegah Ekonomi Atas Negeri, sedangkan SPGN adalah Sekolah Pendidikan Guru Negeri. Dua sekolah kejuruan yang sama-sama mencetak calon tenaga kerja siap kerja, kupilih untuk mewujudkan keinginan orang tua agar nantinya bisa mengabdi di daerah sendiri dan tak perlu merantau jauh-jauh. Ketika pengumuman, ternyata baik di SMEAN maupun SPGN Kebumen, nomor pendaftaranku muncul pertanda diterima. Di SMEA aku diterima di jurusan Keuangan, dan di SPG aku diterima sebagai cadangan. Penerimaan siswa baru di bangku SPG saat itu sangat selektif dan ketat. Selain tes tertulis ada pula tes wawancara. Ada beberapa hal yang diujikan, selain materi umum ada juga materi-materi yang mengarah pada bidang keguruan ataupun kepribadian calon pendidik. Mulai cara berpakaian, bertutur kata, berjalan, memandang, menulis, dan lain-lain.

Akhirnya setelah mendapat persetujuan kedua orang tua akupun melakukan daftar ulang di SMEAN Kebumen. Segala persyaratan  daftar ulang sudah dipenuhi. Namun ketika sudah melakukan pendaftaran ulang di SMEA, datang berita tentang adanya pengumuman dari SPGN Kebumen yang berisi ujian lanjutan khusus bagi pendaftar yang dinyatakan diterima cadangan. Kuturuti[az6]  pesan ayah agar mencoba ikut tes non tertulis kedua tersebut. Dan alhamdulillah saat pengumuman hasil ujian tersebut namaku muncul dan dinyatakan diterima. Singkat cerita sekolah di SMEA kubatalkan dan akhirnya selama 3 (tiga) tahun aku bersekolah di SPG menuntut ilmu umum dan ilmu keguruan sebagai bekal keahlian bagi calon guru SD kulalui dan alhamdulillah tamat dengan nilai yang cukup memuaskan.

Setelah tamat SPG aku diterima sebagai guru wiyatabhakti di SD kampungku. Bisa kurasakan begitu bahagianya kedua orang tuaku melihat anaknya setiap hari menunaikan tugas sebagai guru di desanya meski hanya sebagai tenaga honorer. Selain sebagai guru honorer, aku juga berkecimpung di organisasi kepemudaan di masyarakat selain membantu orang tua bertani. Sebagai ketua umum karang taruna di desaku yang berpenduduk sekitar enam ribuan dan jumlah kepala keluarga sebanyak seribu lima ratus waktu itu menjadi penyemangatku dalam menjalankan organisasi pemuda tersebut. Apalagi mendapat dukungan penuh tidak hanya dari bapak H.Nursodiq kepala desa saat itu, tetapi mayoritas Kadus (Kepala Dusun) yang ada di wilayah desaku. Tidak ketinggalan di usia muda sempat juga mendirikan IRMA (Ikatan [az7] Remaja Mushola “Al Huda”) sebagai wadah pembinaan remaja mushola dengan berbagai macam aktivitasnya di sekitar lingkungan tempat tinggalku.

Berjalan hampir sekian waktu belum mengabdi sebagai guru honorer ternyata belum ada informasi mengenai adanya pengangkatan ataupun tes pegawai negeri bagi guru. Dan muncul informasi terakhir bahwa syarat minimal untuk menjadi seorang guru SD harus berijazah minimal  D-II PGSD. Sebagai alumni SPG akhirnya menyampaikan izin kepada orang tua untuk ikut serta mendaftar program D-II PGSD di PUML Yogyakarta. Dua pilihan yang diperbolehkan kuambil. Pilihan pertama IKIP Yogyakarta, dan pilihan kedua FKIP Universitas Bengkulu. Setelah mengikuti UMPTN (Ujian masuk perguruan tinggi negeri) PUML Yogyakarta, melalui pengumuman yang ada di koran-koran waktu itu ternyata akupun dinyatakan diterima, hanya menjadikan cukup terkejut karena dtiterima di FKIP Universitas Bengkulu. Harapan orang tua terhadapku sebagai anak lelaki satu-satunya ke depannya [az8] bisa mengabdi di desanya ternyata kini tengah diuji, karena anaknya harus berstudi nun jauh di Pulau Andalas Sumatera tepatnya di Bumi Raflesia Bengkulu.

Setelah kusampaikan khabar penerimaan tersebut ternyata ayah teramat bijak dengan mengizinkanku berangkat ke Bengkulu. “Sing penting kowe temen mengko bakale tinemu (Yang penting kamu sungguh-sungguh nanti akan kesampaian)” kata ayah menyemangatiku. “Tumindak mawa waton, aja mung maton tumindak. Nangdi bae bakale slamet. (Bertindak berlandaskan aturan, jangal asal bertindak. Di manapun akan selamat)” sambung ayahku berpesan. Ibu pun dengan suara lirih sambil menahan sedih akan ditinggal pergi jauh anak lelaki satu-satunya pun berkata, “Mengko nek uwis tamat mbok bisa dadi guru nang kene bae? (Nanti kalau sudah tamat kan bisa menjadi guru di sini saja?)” dalam bahasa Jawa Ngapak khas Kebumen. “Insya Allah saged bu, nyuwun doa restunipun... (Insya Allah bu, minta doa restunya).”kujawab perlahan dengan tak terasa air mata berurai membasahi pipiku.

 

Selamat Tinggal Kampung Halaman

Akhirnya kutinggalkan kampung halamanku tercinta, termasuk organisasi karang taruna yang kupimpin dengan program kerja terbaru menjelang HUT RI waktu itu. Kebetulan aku terpilih sebagai Ketua Umum Karang Taruna “Tunas Karya” organisasi pemuda kampungku setamat SPG. Akupun mendirikan organisasi IRMAK (Ikatan Remaja Krajan) organisasi  sebagai unit karang taruna tingkat dusun termasuk dusun-dusun lain sebanyak delapan dusun. Dan ternyata tetap eksis keneradaanya hingga sekarang. Semua aktifitas kepemudaanku dengan berat hati kutinggalkan demi cita-cita dan harapan orang tua menjadi guru.

Setelah perjalanan panjang diawali menumpang kereta api Kutoarjo-Tanah Abang, dilanjutkan dengan menaiki Bus Putera Raflesia jurusan Kalideres-Bengkulu yang memakan waktu sekitar  dua hari dua malam akhirnya sampailah aku di kota Bengkulu dan kampus Universitas Bengkulu, sebuah kota dan kampus yang belum pernah aku singgahi. Kota dengan julukan bumi Raflesia. Kota yang tersohor dengan benteng Marlborougnya. Kota kelahiran ibu negara pertama Fatmawati. Ataupun kota pengasingan Proklamator kemerdekaan Indonesia Ir Soekarno.

Dua tahun setengah mengenyam pendidikan di Bumi Raflesia sudah ditempuh dan akhirnya aku dinyatakan lulus dan mendapatkan selembar ijazah diploma sebagai bekal pengabdian nantinya. Dan setelah itu akupun pulang kampung halaman kembali  berkumpul dengan keluarga sanak famili. Sambutan hangat orang tuaku begitu melihat anaknya pulang lantaran selesai berstudi, terutama kebahagian ibu yang tak bisa disembunyikan. Berharap akan ada pengangkatan guru sehingga bisa mengamalkan pengetahuan yang sudah didapat dibangku kuliah selama ini. Terutama harapan orang tua agar bisa mengabdi di daerah sendiri.

Kurang dari sebulan lamanya di kampung sebuah surat dari kawan datang memberikan khabar akan ada pengangkatan guru bagi alumni PGSD-FKIP Unib di daerah Bengkulu. Akhirnya, aku kembali pamit pada kedua orang tuaku untuk berangkat ke Bengkulu. Pertanyaan ibuku yang tak pernah kulupakan dan belum terpenuhi hingga sekarang. “Lah jere bisa nyambut gawe nang desane dhewek, kok mangkat Bengkulu maning...? (Lah katanya bisa bekerja di desanya sendiri, kok berangkat Bengkulu lagi/)” kata ibuku. Akupun menjawab dengan pelan:”Bu, nyuwun donga restu, mugiyo sakmangke sesampunipun diangkat dados guru teng Bengkulu saged ngurus pindah teng desa mriki...(Bu, mohon doa restu semoga nanti setelah diangkat jadi guru di Bengkulu dapat mengurus pindah ke desa sendiri).”

Beliau tak akan pernah merasakan keinginannya untuk melihat anaknya mengabdi sebagai guru di kampungnya sendiri karena beliau telah dipanggil Illahi bertepatan dengan pembagian SK penugasan perdanaku di Bumi Raflesia ini. Semoga husnul khotimah...Aamiin. Hingga kini pun anak bungsu almarhumah Ibu Jemiyah masih mengabdikan diri sebagai guru di Bumi Raflesia Bengkulu. Belum bisa pindah ke kampung halaman seperti harapan orang tua ketika masih ada dulu.

 

Sebagai Pelayan Toko

Ternyata setelah beberapa hari di Bengkulu belum ada informasi pengangkatan guru. Akhirnya untuk menyambung hidup akupun melamar sebagai pelayan di sebuah toko. Untuk menopang kebutuhan hidupku tak mungkin mengandalkan kiriman orang tuaku lagi. Dulu ketika sebagai mahasiswa wajar berharap kiriman orang tua, sekarang merantau mencari pekerjaan rasanya tak mungkin lagi berharap adanya kiriman orang tua. Berkat bantuan dari Pak Warsino pamannya Widodo teman kuliahku, yang seorang Kapolsek di Argamakmur Bengkulu Utara yang kebetulan berasal dari Purwokerto Banyumas, aku pun diterima bekerja di toko “Sabang Sport & Musik” di kawasan jalan Suprapto Bengkulu. Sebuah toko peralatan alat olah raga dan musik terlengkap di kota Bengkulu di waktu itu.

Bersyukur bisa bekerja di toko sport & musik selain bisa mendapatkan upah bulanan, ternyata toko ini sering dikunjungi pelanggan yang sebagiannnya adalah pejabat daerah dan termasuk para Dosen Universitas Bengkulu untuk berbelanja peralatan olahrga mulai dari peralatan golf, tenis lapangan, badminton dan peralatan olahrga maupun seni lainnya.

Sebagai pekerja toko, akupun melakukan pekerjaan sebagaimana [az9] layaknya. Mulai membersihkan lantai, berberes ataupun merapikan jenis barang dagangan di etalase sebagai kegiatan rutin pagi hari. Meskipun ada himbauan dari pemilik toko agar aku tak melakukan pekerjaan bagian kebersihan karena beliau tahu aku alumni Universitas Bengkulu dan dimasukkan oleh rekan akrab pemilik toko yang seorang polisi, tidak menjadikan aku manja dan tetap melakukan tugas kebersihan. Apalagi apabila si Herman teman kerjaku yang baru masuk dan diberi tugas tersebut belum datang akupun harus turun tangan. Setelah berberes, selalu bos (panggilan hati kecilku kepada Pak Kastam Salim) memanggilku dan menyerahkan buku rekening BCA (Bank Central Asia) berisi uang jutaan rupiah hasil penjualan hari kemarin dan satunya lagi rekening BBD (Bank Bumi Daya). Sesekali beliau mengujinya dengan sisa uang lebih yang diselipkan di buku rekening. Biasanya dua atau tiga hari uang lebih tersebut ditanyakan beliau. Pesan orang tuaku: “Aja milik darben liyan (Jangan merasa memiliki kepunyaan orang lain)”. Aku juga ingat wewarah kyai Ikhsanudin guru ngajiku: “Ngomong sing bener/jujur ben pahit rasane (Berkatalah yang benar sekalipun pahit).”

Selain bertugas melayani pembeli, tugas tambahanku adalah sering mendampingi bos (Pak Kastam Salim) ke kantor-kantor menagih pembayaran tertunda dari pelanggan. Tugas tambahan rutinku setiap hari adalah setor-tarik di BCA cabang Jln.Suprapto Bengkulu. Selepas tarik tunai dari BCA menuju Bank Bumi Daya cabang Jln.Suprapto Bengkulu untuk melakukan transfer ke rekening Sabang Sport & Musik pusat di Tanjung Karang provinsi Lampung. Kegiatan ini sepintas ringan tetapi mengandung resiko yang sangat tinggi karena harus membawa uang jutaan rupiah. Kebetulan tukang parkir yang biasa mangkal di jalan Suprapto biasa aku panggil “Tulang” karena berasal dari Medan dan kukenal baik, tak keberatan untuk mengawasiku seandainya ada tangan-tangan jahil yang akan menggangguku ketika berangkat membawa uang ke Bank hingga pulang ke toko. Lagi-lagi persahabatan ini memuluskan pekerjaanku.

Selepas tugas urusan perbankan, selanjutnya tugas mengurus toko baik itu melayani, memasang senar raket baik raket badminton maupun tenis lapangan, memasang senar gitar, membuat tulisan (menggrafier) pada pelat kuningan yang kadang disepuh dengan emas sebagai pelapis baik untuk piala ataupun cenderamata serah terima jabatan dan lainnya. Beruntung sekali ketika di SPG kegiatan ekstrakurikulerku di bidang kesenian (Paduan suara dan band), sehingga mempunyai sedikit kemampuan di bidang seni khususnya bermain gitar walau terbatas sehingga bisa membantu pembeli menyelaraskan irama gitar baru yang dibeli oleh pelanggan.

 

Suka bercampur Duka

Benar adanya, ketika datang khabar penempatan bagi lulusan PGSD Universitas Bengkulu pemberi khabar pertama adalah bapak Tono Sugiartono dosenku sewaktu kuliah. Beruntung juga sewaktu kuliah dipercaya sebagai ketua tingkat sehingga bisa lebih mengenal dekat para dosen. Akhirnya seizin pemilik toko Bapak Kastam Salim akhirnya berangkat ke kantor Gubernur Bengkulu di Lingkar Barat kota Bengkulu untuk mendapatkan pembekalan sebelum pembagian SK penempatan pada hari pertama. Sore harinya kembali ke toko. Betapa terkejutnya aku dan badan terasa begitu lemas tak berdaya antara sedih bercampur gembira akan mendapatkan SK. Ada khabar dari kakak perempuanku, tentang telegram dari kampung yang mengabarkan ibu tercintaku meninggal dunia. “Innalilahi wa inna ilaihi rojiun...” ucapku lirih. “De, kamu harus tegar. Kamu harus tetap urus dulu masalah kepegawaianmu, biar mba yang ke Jawa duluan ya...” kata kakak perempuanku. “Iya mba...” jawabku lirih. “Almarhumah ibu kita sudah dimakamkan tadi siang, jadi kamu selesaikan dulu urusan kepegawaianmu sampai tuntas. Dan bila sudah selesai, kamu izin pada instansi terkait dan baru menyusul pulang, ya...!” katanya. “Iya mbak” jawabku sambil menahan kesedihan.

Keesokan harinya harus kembali berkumpul di kantor gubernuran untuk menerima SK penempatan. Sebelum acara pembagian SK penempatan, ternyata khabar duka tersebut sudah bocor pada teman-teman seangkatan entah dari mana sumbernya. Berlian Ramli kawan kuliahku yang berasal dari Curup Rejang Lebong, berdiri menyampaikan khabar duka tersebut melalui mikropon yang belum terpakai. Semua rekan seangkatan yang hadir menatapku. Air mataku tak tertahan berjatuhan atas penyampaian khabar duka tersebut walaupun aku sudah berusaha untuk tegar. Terima kasih kawan, atas empatinya dalam hatiku. Aku tak kuasa berkata-kata. Aku yang selama ini tegar dan dijadikan ketua kelas serta mendapat penghargaan dari adik tingkat sebagai “Mahasiswa Ideal” dalam acara perpisahan ternyata kini tak kuasa menahan cobaan yang menimpa. Sambil menunduk kutahan air mataku yang mengalir deras.

Sampailah acara resmi pembagian SK, giliran namaku terpanggil dan kubuka amplop warna krim secara perlahan tapi pasti. Langsung kubaca bagian tempat tugas ternyata aku ditempatkan di SDN 14 Kepala Curup Kecamatan Padang Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong. Entah di mana lokasi sekolah tersebut. Bangga bercampur sedih kuterima SK CPNS tersebut. Aku tak kuasa, sedih dtinggal orang tua tercinta. Ataukah bangga karena dapat membuktikan jerih payah orang tua membesarkan dan membiayaiku untuk bisa menjadi seorang guru, walaupun penempatannya begitu jauh dari kampung [az10] halaman.

Ada wejangan dan nasihat dari Pak Kastam Salim si pemilik toko tempatku bekerja. “Hati-hati nak, daerah tempatmu bekerja itu tergolong masih rawan. Baik itu pembegalan, racun terbang dan bentuk kejahatan lainnya. Kuncinya, pandai-pandailah dalam bergaul. Bapak doakan semoga kamu sukses dan lancar dalam mengabdi sebagai pendidik” katanya menasihatiku. “Insya Allah, pak. Terima kasih atas nasihatnya dan kesempatan bekerja di sini hingga saya sekarang sudah mendapatkan pekerjaan tetap untuk masa depannya. Saya pamit, mohon doa restunya.” jawabku. “Iya...hati-hati dan pandailah bergaul, kalau libur main ke sini, kamu sudah kami anggap sebagai bagian keluarga kami.”tambahnya. “Iya pak, terima kasih”jawabku

Hari minggu pagi setelah pamitan akhirnya berangkat menuju kota Curup. Dalam bayanganku desa Kepala Curup merupakan pedesaan yang berada tak jauh dari kota Curup. Sehingga, nantinya bisa tinggal di kota Curup. Di kota Curup aku menginap di rumah orang tua Amri teman akrabku semasa kuliah. Dia tinggal di Jalan Sapta Marga, tepatnya di depan komplek Kompi 144 Jaya Yudha Curup. Orang tua Amri berasal dari Palembang yang merupakan purnawirawan Angkatan Darat. Dengan ramahnya menerima kehadiranku. Keesokan harinya kami berdua dengan Amri melapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong. Di kantor ini sudah berkumpul teman seangkatan yang penempatannya di kabupaten ini. Setelah mendapatkan pengarahan dan penyelesaian administrasi, semua peserta diperkenankan pulang dan besok disarankan untuk menuju lokasi tempat tugas masing-masing. Kembali menginap di rumah Amri. Ternyata Amri mendapatkan SK penempatan di kecamatan Lebong (sekarang menjadi kabupaten Lebong) berbeda arah jalan. Sementara Amri ke Arah Muara Aman dengan angkutan umum. Dan saya ke arah Lubuk Linggau dengan kendaraan umum yang sama pula hanya beda arah.

Ketika perjalanan kendaraan umum yang lumayan lama dan sepi mengingatkan pesan bapak Kastam Salim akan daerah ini yang masih rawan. Sekitar satu jama perjalanan, sampailah di lokasi sekolah. Lokasi sekolah yang berada tak jauh dari jalan raya, tetapi terlihat kotor dan tak terawat sudah terlintas di benakku [az11] sebagai pertanda daerah rawan. Tapi tetap kutepis itu semua. Aku harus berteguh hati untuk lapor diri dan bersiap melaksanakan tugas sesuai dengan SK yang sudah di tangan. Dengan langkah dimantapkan aku memasuki halaman sekolah yang begitu berdebunya karea musim kemarau. Setelah kuucapkan salam lalu memasuki ruangan guru berukuran sempit karena ruang kelas digunakan sebagai ruang belajar dan ruangan guru dan kepala sekolah. Setelah berkenalan dan pengisian berkas SPMT, kusampaikan izin kepada kepala sekolah Bapak Djohan Syafri bahwa belum bisa melaksanakan tugas mau pulang kampung terlebih dahulu lantaran orang tua meninggal dunia. Izin tertulis yang sudah kusiapkan semalam kuserahkan kepada kepala sekolah dan beliau mengizinkanku dengan waktu secukupnya.

Sore harinya akupun pamitan kepada keluarga Amri untuk melanjutkan pulang ke Jawa dengan jalan darat menggunakan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) SAN jurusan Yogyakarta. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih dua malam sehari. Berangkat Rabu sore dan sampai di Kebumen sekitar jam 04.00 WIB pagi Jumat. Serombongan keluarga sudah menjemputku dengan sebuah mobil sewaan di terminal Kebumen. Dari kota Kebumen ke rumahku yang berjarak berjarak lebih kurang 12 km ditempuhnya selama 20 menit. Tepat jam 04.30 aku sampai di rumah dengan sambutan tangisan kerabatku.

 

Pengabdian di Negeri Orang

Setelah 40 hari peringatan almarhumah ibuku, akhirnya aku pamitan sama ayahku tercinta. Bahwasanya aku harus melaksanakan tugas sebagai guru di Bengkulu. “Iya nak, laksankan tugas dengan sebaik-baiknya. Hati-hati dalam bergaul dan melaksanakan tugas baik dengan teman sejawat maupun dengan masyarakat sekitarnya”. kata beliau bijak. “Inggih pak, nyuwun doa ugi restunipun (Iya pak, mohon doa dan restunya)” jawabku lirih sambil mencium tangan beliau yang kujabat erat.

Walaupun berat untuk meninggalkan kampung halaman yang dipenuhi dengan orang-orang tercinta, namun akhirnya kuucapkan: “Assalamu’alaikum” dengan lantang sebagai ucapan pamit kepada mereka yang berkerumun di depan rumahku ketika mobil yang akan mengantarku ke pool bis SAN sudah siap berangkat. “Wa’alaikum salam .....” terdengar kompak jawaban mereka. Setelah menempuh perjalan darat yang cukup panjang dan melelahkan selama dua malam sehari, akhirnya sampailah di kota dingin Curup sekitar pukul satu siang. Tujuanku ke rumah Amri sebagai tempat hinggap. Pagi harinyaa dengan transportasi umum saya mendatangi tempat tugas di SDN 14 Kepala Curup yang berjarak sekitar 30 km dari kota Curup. Sambutan hangat bapak Kepala Sekolah beserta dewan guru serta anak-anak ketika aku tiba di sekolah. Hari itu juga, kepala sekolah menugasiku sebagai wali kelas VI (enam).

Jam istirahat kusempatkan mengobrol dengan rekan guru yang masih bujangan dan tinggal kost di rumah warga yang berada di sebelah sekolah. Setelah berbincang, akhirnya ada kata sepakat bahwa aku diperkenankan dan izinkan oleh si pemilik rumah untuk tinggal bersama teman sejawatku Dahroni yang berasal dari Lebong. Alhamdulillah akhirnya aku tinggal di tempat tugasku sebagai abdi negara di bidang pendidikan dasar. Akupun berusaha untuk bisa beradaptasi dengan masyarakat tempat tinggalku yang sangat berbeda dari bahasa, budaya, adat istiadat dengan latar belakang hidupku.

Perlahan aku mulai beradaptasi dan mengenal kebiasaan dan adat istiadat masyarakat di tempat tugasku. Mayoritas warga adalah suku Lembak. Bahasa sehari-hari yang digunakan dalam bertutur adalah bahasa Lembak. Suku Lembak dan petutur rumpun bahasa Lembak ini mendiami wilayah Kabupaten Rejang Lebong di beberapa kecamatan, yakni: Kecamatan Sindang Kelingi, Sindang Dataran, Binduriang, Padang ulak Tanding, Sindang Bermani Ulu, Sindang Bermani Ilir dan Kota Padang. Komunitas sesama guru di Wilayah Padang Ulak Tanding terkenal kompak. Karena tidak dipungkiri daerah ini masih ada kawasan yang memang sepi, kadang digunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab untuk mengganggu pengguna jalan raya baik itu masyarakat umum maupun PNS termasuk guru atau petugas lain yang bertugas di daerah ini. Hal tersebut menjadikan para guru ataupun PNS di daerah ini dalam perjalanan menuju tempat tugas memilih untuk berkonvoi guna menghindari tindakan kriminal yang mungkin dapat menimpa apabila berkendara sendiri dalam melintasi kawasan sepi tersebut. Bukan tidak ada petugas keamanan yang berjaga, tetapi cerdiknya para pengganggu jalan tersebut mencari waktu dan kesempatan dalam beraksi.

Pemandangan umum dan hal yang dianggap wajar di daerah ini ketika sekadar berjalan-jalan, atau membantu orang hajatan bahkan ketika menunaikan ibadah jumat dengan menyelipkan pisau di pinggang. Tentu menjadi lain apabila hal tersebut dilakukan di daerah perkotaan, tentu akan menyalahi aturan polisi “Dilarang membawa senjata tajam”. Bersyukur selama lima tahun mengabdi di daerah ini, sekalipun tak pernah mendapat gangguan ataupun kejahilan tangan-tangan tak bertanggung jawab menimpaku. Semua itu tentu anugerah yang kuasa dan di samping upaya-upaya untuk menjalin persahabatan tanpa pandang bulu. Baik dengan teman sejawat maupun dengan instansi lain seperti petugas PLN, Pegawai Pos dan juga warga sekitar tempat tinggalku.

 

Hampir Putus Asa

Seiring berjalannya waktu, akupun sudah sampai pada hitungan bulan mengabdi di daerah ini. Berbagai macam pemandangan akan kejadian di luar kebiasaan mulai menghantuiku. Benar apa yang dipesankan oleh Bapak Kastam Salim bos toko tempatku bekerja dulu. Ternyata daerah ini di pertengahan tahun 96-an masih rawan akan adanya pembegalan maupun bajing loncat. Dan ketika terjadi keributan baik antar warga maupun dalam keluarga, pisau pun bisa ikut andil berbicara.

Pada suatu malam tepatnya malam Minggu yang diiringi gerimis, aku bertiga duduk santai di beranda rumah kontrakanku yang berada di pinggir jalan raya sambil bermain gitar. Sedang asyik bermain gitar di sepinya malam, terdengar suara cukup keras, “Braaakkk” sebuah barang terjatuh dari truk yang melintas di depan rumah tinggalku. Akupun bertanya pada kawan sebelahku yang asli warga sini, “Apa itu...?” tanyaku. “Demlah, ngah dak usah ngurusi gawe wang (Sudahlah, kamu tak usah mencampuri pekerjaan orang lain)” jawabnya menggunakan bahasa Lembak. Akhirnya, kamipun melanjutkan bermain gitar sambil meneguk hangatnya kopi Curup di malam itu.

Terpaut beberapa minggu dari kejadian malam hari ketika ada peristiwa jatuhnya barang dari truk, kini aku kembali mendengar kejadian yang membuatku merinding. Tak jauh dari tempat tinggalku telah terjadi perkelahian berdarah kakak-adik yang tengah mengalami selisih paham masalah keluarga. Dalam perkelahian tersebut sang kakak menghembuskan nafas terakhir di tempat kejadian setelah dihujani pisau berkali-kali oleh sang adik lelakinya. Begitu mudahnya mengakhiri nyawa orang lain dengan sebilah pisau, meskipun masih keluarga. “Astaghfirullahal’adziem...” sembari menghela nafas aku mengucap istighfar mendengar khabar tersebut.

Berkelang satu minggu dari kejadian pembunuhan tersebut, aku melihat pemandangan yang lagi-lagi aneh bagiku. Persis di depan gedung sekolahku hanya dibatasi jalan raya Lubuklinggau-Curup terjadi keributan antar dua keluarga yang bukan famili. Kedua kubu yang bertikai sudah sama-sama menghunus pedang. Beruntung ada pihak ketiga yang berusaha melerai perselisihan tersebut, sehingga tak terjadi pertumpahan darah. Meskipun perkelahian tersebut berhasil dibatalkan, akan tetapi pemandangan yang tak biasa tersebut terus menghantuiku.

Puncak pemandangan mengerikan terjadi di lingkungan sekolahku. Kejadian mengenaskan itu terjadi ketika jam istirahat sekolah berlangsung. Terdengar beberapa siswa berlarian ke kantor sambil berteriak “Pak...pak... ade ciremok kelas limei belege di belakang (Pak...pak... ada anak kelas lima berkelahi di halam belakang)” katanya. “Mane...(Mana...)”tanya Pak Jansen Sihaloho guru kelas lima yang berasal dari Medan. “Belakang...pak)” jawab anak-anak hampir serempak. Kami pun dewan guru berlarian menuju halaman belakang. Benar adanya dua orang murid kelas lima berkelahi dan lebih memilukan karena perkelahian tersebut menggunakan senjata tajam “pisau”. Pisau itu sudah menancap di punggung. Dan siswa yang menjadi lawannya sudah berlari entah kemana. Dengan gesit Pak Jansen Sihaloho mengangkat anak yang terluka tersebut dan membawanya ke puskesmas terdekat.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan akhirnya kepala sekolah menyuruh kami untuk memulangkan seluruh anak-anak. Dengan singkat kepala sekolah menyampaikan kepada dewan guru, bahwa beliau segera akan mengurus perkelahian anak tersebut. “Bapak ibu, untuk hari iko kito balik cepek. Ambo yang akan mengurus dan menyelesai masalah iko. (Bapak ibu, untuk hari ini kita pulang cepat. Saya yang akan mengurus dan menyelsaikan masalah ini)” kata kepala sekolah menggunakan bahasa Melayu logat Bengkulu. Kepala sekolah yang merupakan penduduk asli desa tersebut tentu paham dan tahu cara pendekatan dalam penyelesaian masalah tersebut dengan orang tua/wali terkait sehingga tidak berbuntut panjang.

Benar adanya, keesokan harinya kami masuk sekolah seperti biasa. Kata pak Jansen Sihaloho, si korban luka tusuk kemarin langsung ditangani dokter. Dan katanya luka yaang ada tidak terlalu berbahaya. Tapi, anak tersebut harus istirahat selama beberapa hari di rumah. Setelah diselidiki ternyata, si korban sudah sering berkata-kata yang menyinggung perasaan pelaku. Puncaknya, kemarin pagi si pelaku kembali berkata yang melukai perasaan si pelaku. Akhirnya siswa tersebut pulang dan mengambil pisau dapur dan menghujamkannya pada si korban. Ternyata, kedua siswa tersebut masih bersaudara. Sehingga bapak Kepala Sekolah lebih cepat dalam menyelesaikannya dan tidak berbuntut panjang. Alhamdulillah... .

Peristiwa perkelahian siswa yang menggunakan pisau, perkelahian kakak-adik yang menimbulkan korban tewas, keributan antar warga di depan sekolah dan peristiwa lainnya sering membayang di benakku. Aku sempat bermaksud mundur sebagai guru di daerah ini. Aku merasa sangat berat berjuang mendidik anak-anak di daerah yang kebiasaan orang tua dan lingkungannya masih seperti ini. Keinginanku untuk mundur pernah kusampaikan pada Ibu Sukini kakak angkatku yang kebetulan  juga guru di sekolah ini angkatan tahun 1982 yang berasal dari Gombong. “Mba, aku arep golet kerja nang Tangerang di pabrik baelah, aku ora tahan nang kene. (Mba, saya akan cari kerja di Tangerang di pabrik sajalah, aku tak tahan disini)” kataku padanya. “Ora usah, wong tuwamu nyekolahna kon dadi guru kok malah arep mundur. Kowe nek mengko wis akeh kanca, mesti betah. Kowe setiap Setu sore nang umah Tanjung Aur, nginep njaga umah. Mbakmu setiap Sabtu malem Minggu meng Curup, niliki umah. Mbak agi gawe umah nang Sukaraja. Mbak sing wong wadon be bisa bertahan, ya...?!!” (Tidak usah, orang tuamu menyekolahkanmu untuk menjadi guru kok malah akan mundur. Kowe nanti apabila sudah banyak teman pasti kerasan. Kamu setiap Sabtu sore ke rumah di Tanjung Aur, menginap dan tolong jaga rumah. Mbakmu setiap Sabtu malam Minggu ke Curup, nengok rumah. Mbak sedang mmembangun rumah di Sukaraja. Mbak yang perempuan bisa bertahan, ya,,,?!)” jawabnya sembari menasihatiku dengan bahasa Jawa khas Gombong.

Benar adanya, setiap Sabtu malam Minggu akupun dengan Roni kawan kosku menginap di rumah dinas PLN ranting Tanjung Aur. Di sini aku bertambah kenalan yakni dengan petugas PLN yang bertugas di sini juga warga yang bermukim dekat kantor PLN Tanjung Aur ini. Petugas PLN berasal dari beberapa daerah, sehingga dari obrolannya menjadikan wawasanku bertambah. Asyiknya lagi ketika mereka melakukan kontrol jaringan listrik, akupun sering diajak keliling menggunakan mobil dinas PLN. Dari cara petugas PLN berkomunikasi dengan warga begitu akrab dan kelihatan akan keramahan warga kampung sini menambah penilaianku terhadap warga sini yang ramah-ramah.

Pada suatu ketika aku sedang mengajar di kelas 6 (enam) datanglah seorang warga yang berbadan tegap tinggi besar. Kedatangannya sempat membuatku gemetar dan berkeringat dingin dibuatnya. Dia masuk dan mendekatiku, rasa takut yang menghantui kutahan. Tiba-tiba dia berkata: “Pak, boleh aku ngomong ke anak-anak...?” Akupun menjawab: “Silahkan pak...” Setelah kupersilahkan akhirnya dia pun menyampaikan sesuatu kepada anak-anak:”Hai dengarkan anak-anak..., kalian kalau ingin pintar perhatikan baik-baik ketika pak guru mengajar. Jangan melawan...ikuti perintah pak guru, ya...!” katanya. “Auhhh (Iyaaa)” jawab anak-anak dengan bahasa daerah secara serempak. “Pak guru...kalau ada anak yang bandel tolong dimarah saja. Bapak jangan takut, sayo yang bertanggung jawab...” katanya sambil sesekali menatapku. “Iya pak...” jawabku. Penyampaian agar aku tidak segan memarahi anak-anak yang bandel didengarkan lansungn oleh semua siswa kelasku.

Alhamdulillah, ternyata ada pemerhati dari masyarakat pribumi yakni dengan adanya orang tua yang datang memberi motivasi kepadaku. Setelah kutanya kepada Kepala Sekolah, ternyata orang tua yang datang tadi bernama Abdul Ghoni tokoh masyarakat desa ini. Bapak Abdul Ghoni mempunyai famili di Jakarta yang menjadi pengacara cukup terkenal. Yoki Oktovani adalah anak Bapak Abdul Ghani yang datang ke kelasku tadi. Sejak kedatangannya, menjadikan kelasku lebih terasa nyaman. Anak-anak yang tadinya tergolong bandel, sekarang ada perubahan menjadi sebaliknya ketika ada anak yang ribut dialah menjadi penegurnya. Keputusasaan yang pernah menimpaku ternyata telah berlalu hampir lima tahun. Ternyata kita jangan mudah menyerah, apalagi putus asa.

 

Berupaya Mengembangkan Diri

Dan akhirnya atas uluran tangan kakak angkatku yang berdarah Cirebon beliau menyarankan aku untuk mengajukan mutasi ke daerah lain yang memungkinkan aku bisa mengembangkan karier dengan kembali memasuki bangku kuliah melanjutkan studi. Akhirnya aku dimutasikan ke SDN 1 Curup, salah satu Sekolah Dasar tertua di Kabupaten Rejang Lebong ini. Kebetulan di kota dingin ini ada cabang Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Akhirnya akupun melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Bengkulu cabang Curup. Belum berakhir petualangan untuk berstudi, akupun melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya yakni Pasca Sarjana di Universitas Bengkulu selesai 2009. Berbekal ijazah pasca sarjana inilah akupun memberanikan diri melamar menjadi tutor di UT UPBJJ Bengkulu pokjar Curup pada tahun 2012 dan diterima hingga sekarang masih dipercaya menjadi tutor UT UPBJJ Bengkulu Pokjar Curup.

Sepuluh tahun mengabdi di SDN 1 Curup Kabupten Rejang Lebong akupun selanjutnya diberi tanggung jawab tambahan oleh pemerintah daerah menjadi kepala sekolah di SDN 06 Selupu Rejang sebuah sekolah di lereng gunung berapi “Kaba”. Satu-satunya gunung yang masih aktif di provinsi Bengkulu. Karena merupakan sekolah yang berada di kaki Gunung Api Kaba, maka pada penentuan program sekolah yang diikuti 18 sekolah dari tingkat SD sampai SMA, sekolah ini terpilih menjadi Sekolah Siaga Bencana (SSB) Percontohan Nasional program kerja sama PMI dengan German Red Cross (Palang Merah Jerman) pada tahun 2012. Setelah melalui beberapa program pelatihan dari PMI dan GRC selama sekian bulan yang melibatkan stakeholder akhirnya sampai pada puncaknya yakni launching SSB. Launching SSB Percontohan Nasional dilakukan oleh Sekda Provinsi Bengkulu Bapak Asnawi Lamat dan dihadiri Pengurus PMI pusat Bapak Muhammad Muaz mewakili Bapak Yusuf Kalla yang tak bisa hadir, Wakil Bupati Rejang Lebong dan perwakilan German Red Cross (GRC) serta undangan lainnya. Selama dua periode aku dipercaya oleh pemerintah untuk menjalankan tugas tersebut. Akhirnya di akhir September tahun 2016 akupun dimutasikan kembali menjadi guru di SDN 22 Rejang Lebong hingga sekarang.

Aku tak tahu apakah aku berdosa lantaran belum bisa atau bahkan takkan bisa memenuhi keinginan almarhum kedua orang tuaku untuk mengabdikan diri di kampung halaman hingga sekarang? Apakah aku yang belum atau tak bisa memenuhi permintaan orang tua tergolong anak durhaka? Pertanyaan seperti itu kerap menghantuiku. Yang ada kini tetap berusaha semaksimal mungkin menjadi guru bagi anak didikku di sekolah, menjadi guru bagi ketiga anakku tercinta Astrie Nurfadhilah, Ahmad Nur’afief, dan Ahmad Nur Rafiq dan Tri Herawati isteriku. Aku ingin membalas kebaikan famili, tetangga, kerabat dan pengurus agama desaku yang ketika ayah atau ibuku meninggal, merekalah yang mengurusnya dibawah bimbingan Kyai Ikhsanuddin sekalipun tak akan sebanding. Setidaknya berusaha melakukan kegiatan serupa dengan cara ikut andil semampuku dalam mengurus jenazah warga sekitarku yang meninggal mulai dari memandikan, mengafani, menyolatkan dan menguburkannya. Hal ini aku lakukan karena akupun di daulat menjadi ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Miftahul Jannah di desa tempat tinggalku bermukim sekarang. Sering terbayang ketika membantu petugas agama mengafani, menyolatkan sampai menguburkan jenazah, beginilah orang-orang kampungku mengafani, menyolatkan ataupun menguburkan almarhum ayah dan ibuku ketika meninggal dunia dulu.

Semangat orang tua dalam mendorong dan membiayaiku dalam menggapai cita-cita menjadi guru, terus memacu dan menjadi penyemangatku dalam bergelut menjadi seorang guru. “The Power of Teaching”. Tema ini kembali mengingatkanku akan pesan ayah almarhum:“Sapa temen bakal tinemu”. Ternyata kini akupun bersyukur bisa bergabung dengan penerbit “Man Jada Wajada” yang kalau boleh disamakan artinya dengan pesan orang tuaku bermakna sapa temen bakal tinemu (Barang siapa bersungguh-sungguh maka dia pasti berhasil). Insya Allah...

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

 

 


Basuki, lahir di Desa Peniron Kec.Pejagoan Kab.Kebumen Jawa Tengah. Menempuh pendidikan dari jenjang Pendidikan Dasar sampai Perguruan Tinggi, sebagai berikut: SDN Peniron I, SMPN 3 Kebumen, SPGN Kebumen (Jawa Tengah), DII Universitas Bengkulu, S1 Universitas Muhammadiyah Bengkulu, dan Pasca Sarjana ditempuh Universitas Bengkulu. Beralamat di Jln. Lingkar PP Nurul Kamal Desa Karang Jaya Kec.Selupu Rejang Kab.Rejang Lebong Prov.Bengkulu. Berkarir sebagai tenaga pendidik sejak September 1994 hingga sekarang. Di pertengahan September 2016 dipercaya Pemerintah sebagai tenaga pendidik di SD Negeri 22 Rejang Lebong Provinsi Bengkulu sebagai guru kelas hingga sekarang. Bersyukur bisa bergabung dengan Diklat Penulisan Buku Antologi yang diselenggarakan oleh MJW Education dibawah bimbingan motivator nasional Bapak Akbar Zainudin, sehingga bisa ikut serta menulis Antologi ini dan termotivasi untuk belajar dan terus belajar menulis. Terima kasih, semoga bermanfaat. Aamiin


 [az1]gelar

 [az2]disambung, diperhatikan

 [az3]sekadar

 [az4]dipisah, di antara

 [az5]berpikir

 [az6]kuturuti

 [az7]Ikatan

 [az8]Dipisah, ke depannya

 [az9]sebagaimana

 [az10]kampung

 [az11]di benakku

  PESAN-PESANMU PENYEMANGAT PENGABDIANKU (The Power of Teaching)     Profesi Guru Kata guru ada yang mengartikan diguru lan ditiru...