PESAN-PESANMU
PENYEMANGAT PENGABDIANKU
(The Power of
Teaching)
Profesi Guru
Kata guru ada yang mengartikan diguru lan ditiru. Ada juga yang memberi arti miring wagu tur saru. Istilah digugu lan ditiru
diambil dari bahasa jawa yang maknanya dapat dipercaya (digugu) dan dicontoh
(ditiru). Hal ini berlaku bagi guru yang berperilaku baik dan layak untuk
dicontoh. Guru yang bisa menjadi suri tauladan bagi siswa-siswinya, keluarga,
dan masyarakat sekitarnya. Tetapi apabila seorang guru berpeilaku sebaliknya,
suka judi, mabok-mabokan, melanggar aturan negara ataupun aturan adat istiadat
yang berlaku di masyarakat, maka guru semacam ini layak menyandang gelar [az1] guru yang berarti wagu tur saru. Seorang guru yang
disebut wagu karena tidak pantas untuk dicontoh. Apalagi jika seorang guru
sudah melanggar aturan-aturan, norma, dan adat istiadat di masyarakat maka bisa
disebut saru yang artinya tak beretika atau tak sopan. Wagu tur saru bisa diartikan perbuatan yang
tak pantas untuk dilakukan oleh kita, apalagi pendidik.
Guru, dia adalah pahlawan tanpa tanda,
yang dahulu jasanya
yang terkadang tidak diperhatikan [az2] bagaimana
kehidupannya. Sekarang dengan adanya Undang-undang guru dan dosen guru
menjadi profesi yang mulai dilirik oleh generasi muda. Semua orang hebat terlahir dengan tak lepas dari jasa pendidik yakni
guru. Seorang guru sebagai kunci utama dalam mencerdaskan anak bangsa. Profesi guru bukan hanya sekadar
[az3] pekerjaan biasa yang hanya dimaknai dengan
tugas untuk mendidik anak-anak bangsa pada pendidikan formal saja. Akan tetapi menjadi guru merupakan
panggilan jiwa untuk membantu menyalakan pelita pengetahuan dan kebajikan dalam
diri setiap anak bangsa. Peran guru sangat strategis di
dalam pembangunan nasional karena guru sebagai sebuah
profesi yang menciptakan masa depan melalui karakter dan keterampilan generasi
penerus bangsa.
Di antara [az4] ribuan guru, tentu beribu pula kisah perjalanan
pengabdian keprofesiannya. Mulai dari guru yang mengabdi di perkotaan,
pedesaan, pelosok, dan bahkan daerah perbatasan. Dari sekian ribu tenaga
pendidik yang ada di negeri tercinta ini, salah satunya adalah penulis yang dilahirkan di Peniron, nama
sebuah desa di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.
Perjuangaan Menggapai Harapan Orang Tua
Cerita berawal ketika usia remaja tamatan SMPN 3 Kebumen
ini yang berkeinginan mengabdi di daerahnya sendiri agar bisa memenuhi kehendak
orang tua agar tak jauh-jauh merantau seperti pada para pemuda sekampung pada
umumnya. Di kampung ini dan kampung-kampung di Jawa pada umumnya pada waktu itu,
bagi remaja seusiaku ketika tamat SMP yang tidak melanjutkan jenjang SMA maka
rata-rata pergi mengadu nasib mengais rejeki ke kota besar seperti: Jakarta,
Bandung, Semarang, Surabaya dan sebagainya. Berbekal ilmu dan keterampilan
seadanya, maka mereka mecoba mengadu nasib di kota tujuan dengan mengikuti
ataupun diajak oleh sanak saudara yang merantau duluan. Dan biasanya menjelang
lebaran mereka para perantau pulang kampung dengan membawa cerita beraneka
ragam pula. Ada yang sukses, ada yang kurang beruntung, dan ada pula yang sama
sekali tak mendapatkan pekerjaan sekedar numpang hidup di rumah saudara yang
menetap di perantauan tersebut.
Orang tuaku berpikir [az5] sederhana untuk anak bungsu lelaki satu-satunya dari lima
bersaudara. Hingga kini masih terngiang perkataan orang tuaku, “Nak, kowe mengko nek wis gedhe ora usah
merantau ya. Nang ndesa bae, ngabdi nang desane dhewek (Nak, kamu nanti
kalau sudah besar tak usah merantau ya. Di desa saja, mengabdi di desa sendiri).”
kata orang tua dengan bahasa Jawa Ngapak logat Kebumen.
Setamat SMPN 3 Kebumen dan berbekal NEM (Nilai Ebtanas
Murni) yang tergolong lumayan kuputuskan mendaftar di dua sekolah lanjutan atas
berbasis kejuruan. Pertama mendaftar di SMEAN Kebumen dan kedua di SPGN
Kebumen. SMEAN adalah Sekolah Menegah Ekonomi Atas Negeri, sedangkan SPGN
adalah Sekolah Pendidikan Guru Negeri. Dua sekolah kejuruan yang sama-sama
mencetak calon tenaga kerja siap kerja, kupilih untuk mewujudkan keinginan
orang tua agar nantinya bisa mengabdi di daerah sendiri dan tak perlu merantau
jauh-jauh. Ketika pengumuman, ternyata baik di SMEAN maupun SPGN Kebumen, nomor
pendaftaranku muncul pertanda diterima. Di SMEA aku diterima di jurusan
Keuangan, dan di SPG aku diterima sebagai cadangan. Penerimaan siswa baru di
bangku SPG saat itu sangat selektif dan ketat. Selain tes tertulis ada pula tes
wawancara. Ada beberapa hal yang diujikan, selain materi umum ada juga materi-materi
yang mengarah pada bidang keguruan ataupun kepribadian calon pendidik. Mulai
cara berpakaian, bertutur kata, berjalan, memandang, menulis, dan lain-lain.
Akhirnya setelah mendapat persetujuan kedua orang tua akupun
melakukan daftar ulang di SMEAN Kebumen. Segala persyaratan daftar ulang sudah dipenuhi. Namun ketika sudah
melakukan pendaftaran ulang di SMEA, datang berita tentang adanya pengumuman dari
SPGN Kebumen yang berisi ujian lanjutan khusus bagi pendaftar yang dinyatakan
diterima cadangan. Kuturuti[az6] pesan ayah agar mencoba ikut tes non tertulis kedua tersebut.
Dan alhamdulillah saat pengumuman hasil ujian tersebut namaku muncul dan
dinyatakan diterima. Singkat cerita sekolah di SMEA kubatalkan dan akhirnya
selama 3 (tiga) tahun aku bersekolah di SPG menuntut ilmu umum dan ilmu
keguruan sebagai bekal keahlian bagi calon guru SD kulalui dan alhamdulillah
tamat dengan nilai yang cukup memuaskan.
Setelah tamat SPG aku diterima sebagai guru wiyatabhakti
di SD kampungku. Bisa kurasakan begitu bahagianya kedua orang tuaku melihat
anaknya setiap hari menunaikan tugas sebagai guru di desanya meski hanya
sebagai tenaga honorer. Selain sebagai guru honorer, aku juga berkecimpung di
organisasi kepemudaan di masyarakat selain membantu orang tua bertani. Sebagai
ketua umum karang taruna di desaku yang berpenduduk sekitar enam ribuan dan
jumlah kepala keluarga sebanyak seribu lima ratus waktu itu menjadi
penyemangatku dalam menjalankan organisasi pemuda tersebut. Apalagi mendapat
dukungan penuh tidak hanya dari bapak H.Nursodiq kepala desa saat itu, tetapi
mayoritas Kadus (Kepala Dusun) yang ada di wilayah desaku. Tidak ketinggalan di
usia muda sempat juga mendirikan IRMA (Ikatan [az7] Remaja Mushola “Al Huda”) sebagai wadah pembinaan remaja
mushola dengan berbagai macam aktivitasnya di sekitar lingkungan tempat
tinggalku.
Berjalan hampir sekian waktu belum mengabdi sebagai guru
honorer ternyata belum ada informasi mengenai adanya pengangkatan ataupun tes
pegawai negeri bagi guru. Dan muncul informasi terakhir bahwa syarat minimal
untuk menjadi seorang guru SD harus berijazah minimal D-II PGSD. Sebagai alumni SPG akhirnya
menyampaikan izin kepada orang tua untuk ikut serta mendaftar program D-II PGSD
di PUML Yogyakarta. Dua pilihan yang diperbolehkan kuambil. Pilihan pertama
IKIP Yogyakarta, dan pilihan kedua FKIP Universitas Bengkulu. Setelah mengikuti
UMPTN (Ujian masuk perguruan tinggi negeri) PUML Yogyakarta, melalui pengumuman
yang ada di koran-koran waktu itu ternyata akupun dinyatakan diterima, hanya
menjadikan cukup terkejut karena dtiterima di FKIP Universitas Bengkulu. Harapan
orang tua terhadapku sebagai anak lelaki satu-satunya ke depannya [az8] bisa mengabdi di desanya ternyata kini tengah diuji,
karena anaknya harus berstudi nun jauh di Pulau Andalas Sumatera tepatnya di
Bumi Raflesia Bengkulu.
Setelah kusampaikan khabar penerimaan tersebut ternyata ayah
teramat bijak dengan mengizinkanku berangkat ke Bengkulu. “Sing penting kowe temen mengko bakale tinemu (Yang penting kamu
sungguh-sungguh nanti akan kesampaian)” kata ayah menyemangatiku. “Tumindak mawa waton, aja mung maton
tumindak. Nangdi bae bakale slamet. (Bertindak berlandaskan aturan, jangal
asal bertindak. Di manapun akan selamat)” sambung ayahku berpesan. Ibu pun
dengan suara lirih sambil menahan sedih akan ditinggal pergi jauh anak lelaki
satu-satunya pun berkata, “Mengko nek
uwis tamat mbok bisa dadi guru nang kene bae? (Nanti kalau sudah tamat kan
bisa menjadi guru di sini saja?)” dalam bahasa Jawa Ngapak khas Kebumen. “Insya Allah saged bu, nyuwun doa restunipun...
(Insya Allah bu, minta doa restunya).”kujawab
perlahan dengan tak terasa air mata berurai membasahi pipiku.
Selamat Tinggal Kampung Halaman
Akhirnya kutinggalkan kampung halamanku tercinta,
termasuk organisasi karang taruna yang kupimpin dengan program kerja terbaru
menjelang HUT RI waktu itu. Kebetulan aku terpilih sebagai Ketua Umum Karang
Taruna “Tunas Karya” organisasi pemuda kampungku setamat SPG. Akupun mendirikan
organisasi IRMAK (Ikatan Remaja Krajan) organisasi sebagai unit karang taruna tingkat dusun
termasuk dusun-dusun lain sebanyak delapan dusun. Dan ternyata tetap eksis
keneradaanya hingga sekarang. Semua aktifitas kepemudaanku dengan berat hati
kutinggalkan demi cita-cita dan harapan orang tua menjadi guru.
Setelah perjalanan panjang diawali menumpang kereta api
Kutoarjo-Tanah Abang, dilanjutkan dengan menaiki Bus Putera Raflesia jurusan
Kalideres-Bengkulu yang memakan waktu sekitar
dua hari dua malam akhirnya sampailah aku di kota Bengkulu dan kampus
Universitas Bengkulu, sebuah kota dan kampus yang belum pernah aku singgahi. Kota
dengan julukan bumi Raflesia. Kota yang tersohor dengan benteng Marlborougnya.
Kota kelahiran ibu negara pertama Fatmawati. Ataupun kota pengasingan
Proklamator kemerdekaan Indonesia Ir Soekarno.
Dua tahun setengah mengenyam pendidikan di Bumi Raflesia
sudah ditempuh dan akhirnya aku dinyatakan lulus dan mendapatkan selembar
ijazah diploma sebagai bekal pengabdian nantinya. Dan setelah itu akupun pulang
kampung halaman kembali berkumpul dengan
keluarga sanak famili. Sambutan hangat orang tuaku begitu melihat anaknya
pulang lantaran selesai berstudi, terutama kebahagian ibu yang tak bisa
disembunyikan. Berharap akan ada pengangkatan guru sehingga bisa mengamalkan
pengetahuan yang sudah didapat dibangku kuliah selama ini. Terutama harapan
orang tua agar bisa mengabdi di daerah sendiri.
Kurang dari sebulan lamanya di kampung sebuah surat dari
kawan datang memberikan khabar akan ada pengangkatan guru bagi alumni PGSD-FKIP
Unib di daerah Bengkulu. Akhirnya, aku kembali pamit pada kedua orang tuaku
untuk berangkat ke Bengkulu. Pertanyaan ibuku yang tak pernah kulupakan dan
belum terpenuhi hingga sekarang. “Lah
jere bisa nyambut gawe nang desane dhewek, kok mangkat Bengkulu maning...?
(Lah katanya bisa bekerja di desanya sendiri, kok berangkat Bengkulu lagi/)”
kata ibuku. Akupun menjawab dengan pelan:”Bu,
nyuwun donga restu, mugiyo sakmangke sesampunipun diangkat dados guru teng
Bengkulu saged ngurus pindah teng desa mriki...(Bu, mohon doa restu semoga
nanti setelah diangkat jadi guru di Bengkulu dapat mengurus pindah ke desa
sendiri).”
Beliau tak akan pernah merasakan keinginannya untuk
melihat anaknya mengabdi sebagai guru di kampungnya sendiri karena beliau telah
dipanggil Illahi bertepatan dengan pembagian SK penugasan perdanaku di Bumi
Raflesia ini. Semoga husnul khotimah...Aamiin. Hingga kini pun anak bungsu
almarhumah Ibu Jemiyah masih mengabdikan diri sebagai guru di Bumi Raflesia
Bengkulu. Belum bisa pindah ke kampung halaman seperti harapan orang tua ketika
masih ada dulu.
Sebagai Pelayan Toko
Ternyata setelah beberapa hari di Bengkulu belum ada
informasi pengangkatan guru. Akhirnya untuk menyambung hidup akupun melamar
sebagai pelayan di sebuah toko. Untuk menopang kebutuhan hidupku tak mungkin
mengandalkan kiriman orang tuaku lagi. Dulu ketika sebagai mahasiswa wajar
berharap kiriman orang tua, sekarang merantau mencari pekerjaan rasanya tak
mungkin lagi berharap adanya kiriman orang tua. Berkat bantuan dari Pak Warsino
pamannya Widodo teman kuliahku, yang seorang Kapolsek di Argamakmur Bengkulu
Utara yang kebetulan berasal dari Purwokerto Banyumas, aku pun diterima bekerja
di toko “Sabang Sport & Musik” di kawasan jalan Suprapto Bengkulu. Sebuah
toko peralatan alat olah raga dan musik terlengkap di kota Bengkulu di waktu
itu.
Bersyukur bisa bekerja di toko sport & musik selain
bisa mendapatkan upah bulanan, ternyata toko ini sering dikunjungi pelanggan
yang sebagiannnya adalah pejabat daerah dan termasuk para Dosen Universitas
Bengkulu untuk berbelanja peralatan olahrga mulai dari peralatan golf, tenis
lapangan, badminton dan peralatan olahrga maupun seni lainnya.
Sebagai pekerja toko, akupun melakukan pekerjaan sebagaimana [az9] layaknya. Mulai membersihkan lantai, berberes ataupun
merapikan jenis barang dagangan di etalase sebagai kegiatan rutin pagi hari.
Meskipun ada himbauan dari pemilik toko agar aku tak melakukan pekerjaan bagian
kebersihan karena beliau tahu aku alumni Universitas Bengkulu dan dimasukkan
oleh rekan akrab pemilik toko yang seorang polisi, tidak menjadikan aku manja
dan tetap melakukan tugas kebersihan. Apalagi apabila si Herman teman kerjaku
yang baru masuk dan diberi tugas tersebut belum datang akupun harus turun
tangan. Setelah berberes, selalu bos (panggilan hati kecilku kepada Pak Kastam
Salim) memanggilku dan menyerahkan buku rekening BCA (Bank Central Asia) berisi
uang jutaan rupiah hasil penjualan hari kemarin dan satunya lagi rekening BBD
(Bank Bumi Daya). Sesekali beliau mengujinya dengan sisa uang lebih yang
diselipkan di buku rekening. Biasanya dua atau tiga hari uang lebih tersebut
ditanyakan beliau. Pesan orang tuaku: “Aja
milik darben liyan (Jangan merasa memiliki kepunyaan orang lain)”. Aku juga
ingat wewarah kyai Ikhsanudin guru ngajiku: “Ngomong sing bener/jujur ben pahit rasane (Berkatalah yang benar
sekalipun pahit).”
Selain bertugas melayani pembeli, tugas tambahanku adalah
sering mendampingi bos (Pak Kastam Salim) ke kantor-kantor menagih pembayaran
tertunda dari pelanggan. Tugas tambahan rutinku setiap hari adalah setor-tarik
di BCA cabang Jln.Suprapto Bengkulu. Selepas tarik tunai dari BCA menuju Bank
Bumi Daya cabang Jln.Suprapto Bengkulu untuk melakukan transfer ke rekening
Sabang Sport & Musik pusat di Tanjung Karang provinsi Lampung. Kegiatan ini
sepintas ringan tetapi mengandung resiko yang sangat tinggi karena harus
membawa uang jutaan rupiah. Kebetulan tukang parkir yang biasa mangkal di jalan
Suprapto biasa aku panggil “Tulang” karena berasal dari Medan dan kukenal baik,
tak keberatan untuk mengawasiku seandainya ada tangan-tangan jahil yang akan
menggangguku ketika berangkat membawa uang ke Bank hingga pulang ke toko. Lagi-lagi
persahabatan ini memuluskan pekerjaanku.
Selepas tugas urusan perbankan, selanjutnya tugas
mengurus toko baik itu melayani, memasang senar raket baik raket badminton
maupun tenis lapangan, memasang senar gitar, membuat tulisan (menggrafier) pada pelat kuningan yang
kadang disepuh dengan emas sebagai pelapis baik untuk piala ataupun cenderamata
serah terima jabatan dan lainnya. Beruntung sekali ketika di SPG kegiatan
ekstrakurikulerku di bidang kesenian (Paduan suara dan band), sehingga mempunyai
sedikit kemampuan di bidang seni khususnya bermain gitar walau terbatas
sehingga bisa membantu pembeli menyelaraskan irama gitar baru yang dibeli oleh
pelanggan.
Suka bercampur Duka
Benar adanya, ketika datang khabar penempatan bagi
lulusan PGSD Universitas Bengkulu pemberi khabar pertama adalah bapak Tono
Sugiartono dosenku sewaktu kuliah. Beruntung juga sewaktu kuliah dipercaya
sebagai ketua tingkat sehingga bisa lebih mengenal dekat para dosen. Akhirnya seizin
pemilik toko Bapak Kastam Salim akhirnya berangkat ke kantor Gubernur Bengkulu
di Lingkar Barat kota Bengkulu untuk mendapatkan pembekalan sebelum pembagian
SK penempatan pada hari pertama. Sore harinya kembali ke toko. Betapa
terkejutnya aku dan badan terasa begitu lemas tak berdaya antara sedih
bercampur gembira akan mendapatkan SK. Ada khabar dari kakak perempuanku,
tentang telegram dari kampung yang mengabarkan ibu tercintaku meninggal dunia. “Innalilahi
wa inna ilaihi rojiun...” ucapku lirih. “De, kamu harus tegar. Kamu harus tetap
urus dulu masalah kepegawaianmu, biar mba yang ke Jawa duluan ya...” kata kakak
perempuanku. “Iya mba...” jawabku lirih. “Almarhumah ibu kita sudah dimakamkan
tadi siang, jadi kamu selesaikan dulu urusan kepegawaianmu sampai tuntas. Dan
bila sudah selesai, kamu izin pada instansi terkait dan baru menyusul pulang, ya...!”
katanya. “Iya mbak” jawabku sambil menahan kesedihan.
Keesokan harinya harus kembali berkumpul di kantor
gubernuran untuk menerima SK penempatan. Sebelum acara pembagian SK penempatan,
ternyata khabar duka tersebut sudah bocor pada teman-teman seangkatan entah
dari mana sumbernya. Berlian Ramli kawan kuliahku yang berasal dari Curup
Rejang Lebong, berdiri menyampaikan khabar duka tersebut melalui mikropon yang
belum terpakai. Semua rekan seangkatan yang hadir menatapku. Air mataku tak
tertahan berjatuhan atas penyampaian khabar duka tersebut walaupun aku sudah
berusaha untuk tegar. Terima kasih kawan, atas empatinya dalam hatiku. Aku tak
kuasa berkata-kata. Aku yang selama ini tegar dan dijadikan ketua kelas serta
mendapat penghargaan dari adik tingkat sebagai “Mahasiswa Ideal” dalam acara
perpisahan ternyata kini tak kuasa menahan cobaan yang menimpa. Sambil menunduk
kutahan air mataku yang mengalir deras.
Sampailah acara resmi pembagian SK, giliran namaku
terpanggil dan kubuka amplop warna krim secara perlahan tapi pasti. Langsung
kubaca bagian tempat tugas ternyata aku ditempatkan di SDN 14 Kepala Curup
Kecamatan Padang Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong. Entah di mana lokasi
sekolah tersebut. Bangga bercampur sedih kuterima SK CPNS tersebut. Aku tak
kuasa, sedih dtinggal orang tua tercinta. Ataukah bangga karena dapat
membuktikan jerih payah orang tua membesarkan dan membiayaiku untuk bisa
menjadi seorang guru, walaupun penempatannya begitu jauh dari kampung [az10] halaman.
Ada wejangan dan nasihat dari Pak Kastam Salim si pemilik
toko tempatku bekerja. “Hati-hati nak, daerah tempatmu bekerja itu tergolong
masih rawan. Baik itu pembegalan, racun terbang dan bentuk kejahatan lainnya.
Kuncinya, pandai-pandailah dalam bergaul. Bapak doakan semoga kamu sukses dan
lancar dalam mengabdi sebagai pendidik” katanya menasihatiku. “Insya Allah, pak.
Terima kasih atas nasihatnya dan kesempatan bekerja di sini hingga saya sekarang
sudah mendapatkan pekerjaan tetap untuk masa depannya. Saya pamit, mohon doa
restunya.” jawabku. “Iya...hati-hati dan pandailah bergaul, kalau libur main ke
sini, kamu sudah kami anggap sebagai bagian keluarga kami.”tambahnya. “Iya pak,
terima kasih”jawabku
Hari minggu pagi setelah pamitan akhirnya berangkat
menuju kota Curup. Dalam bayanganku desa Kepala Curup merupakan pedesaan yang
berada tak jauh dari kota Curup. Sehingga, nantinya bisa tinggal di kota Curup.
Di kota Curup aku menginap di rumah orang tua Amri teman akrabku semasa kuliah.
Dia tinggal di Jalan Sapta Marga, tepatnya di depan komplek Kompi 144 Jaya
Yudha Curup. Orang tua Amri berasal dari Palembang yang merupakan purnawirawan
Angkatan Darat. Dengan ramahnya menerima kehadiranku. Keesokan harinya kami
berdua dengan Amri melapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang
Lebong. Di kantor ini sudah berkumpul teman seangkatan yang penempatannya di
kabupaten ini. Setelah mendapatkan pengarahan dan penyelesaian administrasi,
semua peserta diperkenankan pulang dan besok disarankan untuk menuju lokasi
tempat tugas masing-masing. Kembali menginap di rumah Amri. Ternyata Amri
mendapatkan SK penempatan di kecamatan Lebong (sekarang menjadi kabupaten
Lebong) berbeda arah jalan. Sementara Amri ke Arah Muara Aman dengan angkutan
umum. Dan saya ke arah Lubuk Linggau dengan kendaraan umum yang sama pula hanya
beda arah.
Ketika perjalanan kendaraan umum yang lumayan lama dan
sepi mengingatkan pesan bapak Kastam Salim akan daerah ini yang masih rawan.
Sekitar satu jama perjalanan, sampailah di lokasi sekolah. Lokasi sekolah yang
berada tak jauh dari jalan raya, tetapi terlihat kotor dan tak terawat sudah terlintas
di benakku
[az11] sebagai pertanda
daerah rawan. Tapi tetap kutepis itu semua. Aku harus berteguh hati untuk lapor
diri dan bersiap melaksanakan tugas sesuai dengan SK yang sudah di tangan.
Dengan langkah dimantapkan aku memasuki halaman sekolah yang begitu berdebunya
karea musim kemarau. Setelah kuucapkan salam lalu memasuki ruangan guru
berukuran sempit karena ruang kelas digunakan sebagai ruang belajar dan ruangan
guru dan kepala sekolah. Setelah berkenalan dan pengisian berkas SPMT,
kusampaikan izin kepada kepala sekolah Bapak Djohan Syafri bahwa belum bisa
melaksanakan tugas mau pulang kampung terlebih dahulu lantaran orang tua
meninggal dunia. Izin tertulis yang sudah kusiapkan semalam kuserahkan kepada
kepala sekolah dan beliau mengizinkanku dengan waktu secukupnya.
Sore harinya akupun pamitan kepada keluarga Amri untuk
melanjutkan pulang ke Jawa dengan jalan darat menggunakan bus AKAP (Antar Kota
Antar Provinsi) SAN jurusan Yogyakarta. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih
dua malam sehari. Berangkat Rabu sore dan sampai di Kebumen sekitar jam 04.00
WIB pagi Jumat. Serombongan keluarga sudah menjemputku dengan sebuah mobil
sewaan di terminal Kebumen. Dari kota Kebumen ke rumahku yang berjarak berjarak
lebih kurang 12 km ditempuhnya selama 20 menit. Tepat jam 04.30 aku sampai di
rumah dengan sambutan tangisan kerabatku.
Pengabdian di Negeri Orang
Setelah 40 hari peringatan almarhumah ibuku, akhirnya aku
pamitan sama ayahku tercinta. Bahwasanya aku harus melaksanakan tugas sebagai
guru di Bengkulu. “Iya nak, laksankan tugas dengan sebaik-baiknya. Hati-hati
dalam bergaul dan melaksanakan tugas baik dengan teman sejawat maupun dengan
masyarakat sekitarnya”. kata beliau bijak. “Inggih
pak, nyuwun doa ugi restunipun (Iya pak, mohon doa dan restunya)” jawabku
lirih sambil mencium tangan beliau yang kujabat erat.
Walaupun berat untuk meninggalkan kampung halaman yang
dipenuhi dengan orang-orang tercinta, namun akhirnya kuucapkan:
“Assalamu’alaikum” dengan lantang sebagai ucapan pamit kepada mereka yang
berkerumun di depan rumahku ketika mobil yang akan mengantarku ke pool bis SAN
sudah siap berangkat. “Wa’alaikum salam .....” terdengar kompak jawaban mereka.
Setelah menempuh perjalan darat yang cukup panjang dan melelahkan selama dua
malam sehari, akhirnya sampailah di kota dingin Curup sekitar pukul satu siang.
Tujuanku ke rumah Amri sebagai tempat hinggap. Pagi harinyaa dengan
transportasi umum saya mendatangi tempat tugas di SDN 14 Kepala Curup yang
berjarak sekitar 30 km dari kota Curup. Sambutan hangat bapak Kepala Sekolah
beserta dewan guru serta anak-anak ketika aku tiba di sekolah. Hari itu juga,
kepala sekolah menugasiku sebagai wali kelas VI (enam).
Jam istirahat kusempatkan mengobrol dengan rekan guru
yang masih bujangan dan tinggal kost di rumah warga yang berada di sebelah
sekolah. Setelah berbincang, akhirnya ada kata sepakat bahwa aku diperkenankan
dan izinkan oleh si pemilik rumah untuk tinggal bersama teman sejawatku Dahroni
yang berasal dari Lebong. Alhamdulillah akhirnya aku tinggal di tempat tugasku
sebagai abdi negara di bidang pendidikan dasar. Akupun berusaha untuk bisa
beradaptasi dengan masyarakat tempat tinggalku yang sangat berbeda dari bahasa,
budaya, adat istiadat dengan latar belakang hidupku.
Perlahan aku mulai beradaptasi dan mengenal kebiasaan dan
adat istiadat masyarakat di tempat tugasku. Mayoritas warga adalah suku Lembak.
Bahasa sehari-hari yang digunakan dalam bertutur adalah bahasa Lembak. Suku
Lembak dan petutur rumpun bahasa Lembak ini mendiami wilayah Kabupaten Rejang
Lebong di beberapa kecamatan, yakni: Kecamatan Sindang Kelingi, Sindang
Dataran, Binduriang, Padang ulak Tanding, Sindang Bermani Ulu, Sindang Bermani
Ilir dan Kota Padang. Komunitas sesama guru di Wilayah Padang Ulak Tanding
terkenal kompak. Karena tidak dipungkiri daerah ini masih ada kawasan yang
memang sepi, kadang digunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab untuk
mengganggu pengguna jalan raya baik itu masyarakat umum maupun PNS termasuk
guru atau petugas lain yang bertugas di daerah ini. Hal tersebut menjadikan
para guru ataupun PNS di daerah ini dalam perjalanan menuju tempat tugas
memilih untuk berkonvoi guna menghindari tindakan kriminal yang mungkin dapat
menimpa apabila berkendara sendiri dalam melintasi kawasan sepi tersebut. Bukan
tidak ada petugas keamanan yang berjaga, tetapi cerdiknya para pengganggu jalan
tersebut mencari waktu dan kesempatan dalam beraksi.
Pemandangan umum dan hal yang dianggap wajar di daerah
ini ketika sekadar berjalan-jalan, atau membantu orang hajatan bahkan ketika
menunaikan ibadah jumat dengan menyelipkan pisau di pinggang. Tentu menjadi
lain apabila hal tersebut dilakukan di daerah perkotaan, tentu akan menyalahi
aturan polisi “Dilarang membawa senjata tajam”. Bersyukur selama lima tahun
mengabdi di daerah ini, sekalipun tak pernah mendapat gangguan ataupun
kejahilan tangan-tangan tak bertanggung jawab menimpaku. Semua itu tentu
anugerah yang kuasa dan di samping upaya-upaya untuk menjalin persahabatan
tanpa pandang bulu. Baik dengan teman sejawat maupun dengan instansi lain
seperti petugas PLN, Pegawai Pos dan juga warga sekitar tempat tinggalku.
Hampir Putus Asa
Seiring berjalannya waktu, akupun sudah sampai pada
hitungan bulan mengabdi di daerah ini. Berbagai macam pemandangan akan kejadian
di luar kebiasaan mulai menghantuiku. Benar apa yang dipesankan oleh Bapak
Kastam Salim bos toko tempatku bekerja dulu. Ternyata daerah ini di pertengahan
tahun 96-an masih rawan akan adanya pembegalan maupun bajing loncat. Dan ketika
terjadi keributan baik antar warga maupun dalam keluarga, pisau pun bisa ikut
andil berbicara.
Pada suatu malam tepatnya malam Minggu yang diiringi
gerimis, aku bertiga duduk santai di beranda rumah kontrakanku yang berada di
pinggir jalan raya sambil bermain gitar. Sedang asyik bermain gitar di sepinya
malam, terdengar suara cukup keras, “Braaakkk” sebuah barang terjatuh dari truk
yang melintas di depan rumah tinggalku. Akupun bertanya pada kawan sebelahku
yang asli warga sini, “Apa itu...?” tanyaku. “Demlah, ngah dak usah ngurusi gawe wang (Sudahlah, kamu tak usah
mencampuri pekerjaan orang lain)” jawabnya menggunakan bahasa Lembak. Akhirnya,
kamipun melanjutkan bermain gitar sambil meneguk hangatnya kopi Curup di malam
itu.
Terpaut beberapa minggu dari kejadian malam hari ketika
ada peristiwa jatuhnya barang dari truk, kini aku kembali mendengar kejadian
yang membuatku merinding. Tak jauh dari tempat tinggalku telah terjadi
perkelahian berdarah kakak-adik yang tengah mengalami selisih paham masalah
keluarga. Dalam perkelahian tersebut sang kakak menghembuskan nafas terakhir di
tempat kejadian setelah dihujani pisau berkali-kali oleh sang adik lelakinya.
Begitu mudahnya mengakhiri nyawa orang lain dengan sebilah pisau, meskipun
masih keluarga. “Astaghfirullahal’adziem...”
sembari menghela nafas aku mengucap istighfar mendengar khabar tersebut.
Berkelang satu minggu dari kejadian pembunuhan tersebut,
aku melihat pemandangan yang lagi-lagi aneh bagiku. Persis di depan gedung
sekolahku hanya dibatasi jalan raya Lubuklinggau-Curup terjadi keributan antar
dua keluarga yang bukan famili. Kedua kubu yang bertikai sudah sama-sama
menghunus pedang. Beruntung ada pihak ketiga yang berusaha melerai perselisihan
tersebut, sehingga tak terjadi pertumpahan darah. Meskipun perkelahian tersebut
berhasil dibatalkan, akan tetapi pemandangan yang tak biasa tersebut terus
menghantuiku.
Puncak pemandangan mengerikan terjadi di lingkungan sekolahku.
Kejadian mengenaskan itu terjadi ketika jam istirahat sekolah berlangsung.
Terdengar beberapa siswa berlarian ke kantor sambil berteriak “Pak...pak... ade ciremok kelas limei belege
di belakang (Pak...pak... ada anak kelas lima berkelahi di halam belakang)”
katanya. “Mane...(Mana...)”tanya Pak
Jansen Sihaloho guru kelas lima yang berasal dari Medan. “Belakang...pak)”
jawab anak-anak hampir serempak. Kami pun dewan guru berlarian menuju halaman
belakang. Benar adanya dua orang murid kelas lima berkelahi dan lebih memilukan
karena perkelahian tersebut menggunakan senjata tajam “pisau”. Pisau itu sudah
menancap di punggung. Dan siswa yang menjadi lawannya sudah berlari entah
kemana. Dengan gesit Pak Jansen Sihaloho mengangkat anak yang terluka tersebut
dan membawanya ke puskesmas terdekat.
Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan akhirnya
kepala sekolah menyuruh kami untuk memulangkan seluruh anak-anak. Dengan
singkat kepala sekolah menyampaikan kepada dewan guru, bahwa beliau segera akan
mengurus perkelahian anak tersebut. “Bapak
ibu, untuk hari iko kito balik cepek. Ambo yang akan mengurus dan menyelesai
masalah iko. (Bapak ibu, untuk hari ini kita pulang cepat. Saya yang akan
mengurus dan menyelsaikan masalah ini)” kata kepala sekolah menggunakan bahasa
Melayu logat Bengkulu. Kepala sekolah yang merupakan penduduk asli desa
tersebut tentu paham dan tahu cara pendekatan dalam penyelesaian masalah
tersebut dengan orang tua/wali terkait sehingga tidak berbuntut panjang.
Benar adanya, keesokan harinya kami masuk sekolah seperti
biasa. Kata pak Jansen Sihaloho, si korban luka tusuk kemarin langsung
ditangani dokter. Dan katanya luka yaang ada tidak terlalu berbahaya. Tapi,
anak tersebut harus istirahat selama beberapa hari di rumah. Setelah diselidiki
ternyata, si korban sudah sering berkata-kata yang menyinggung perasaan pelaku.
Puncaknya, kemarin pagi si pelaku kembali berkata yang melukai perasaan si
pelaku. Akhirnya siswa tersebut pulang dan mengambil pisau dapur dan
menghujamkannya pada si korban. Ternyata, kedua siswa tersebut masih bersaudara.
Sehingga bapak Kepala Sekolah lebih cepat dalam menyelesaikannya dan tidak
berbuntut panjang. Alhamdulillah... .
Peristiwa perkelahian siswa yang menggunakan pisau,
perkelahian kakak-adik yang menimbulkan korban tewas, keributan antar warga di
depan sekolah dan peristiwa lainnya sering membayang di benakku. Aku sempat
bermaksud mundur sebagai guru di daerah ini. Aku merasa sangat berat berjuang
mendidik anak-anak di daerah yang kebiasaan orang tua dan lingkungannya masih
seperti ini. Keinginanku untuk mundur pernah kusampaikan pada Ibu Sukini kakak
angkatku yang kebetulan juga guru di
sekolah ini angkatan tahun 1982 yang berasal dari Gombong. “Mba, aku arep golet kerja nang Tangerang di
pabrik baelah, aku ora tahan nang kene. (Mba, saya akan cari kerja di
Tangerang di pabrik sajalah, aku tak tahan disini)” kataku padanya. “Ora usah, wong tuwamu nyekolahna kon dadi
guru kok malah arep mundur. Kowe nek mengko wis akeh kanca, mesti betah. Kowe
setiap Setu sore nang umah Tanjung Aur, nginep njaga umah. Mbakmu setiap Sabtu malem
Minggu meng Curup, niliki umah. Mbak agi gawe umah nang Sukaraja. Mbak sing wong wadon be bisa bertahan,
ya...?!!” (Tidak usah, orang tuamu menyekolahkanmu untuk menjadi guru kok
malah akan mundur. Kowe nanti apabila sudah banyak teman pasti kerasan. Kamu
setiap Sabtu sore ke rumah di Tanjung Aur, menginap dan tolong jaga rumah. Mbakmu
setiap Sabtu malam Minggu ke Curup, nengok rumah. Mbak sedang mmembangun rumah
di Sukaraja. Mbak yang perempuan bisa bertahan, ya,,,?!)” jawabnya sembari
menasihatiku dengan bahasa Jawa khas Gombong.
Benar adanya, setiap Sabtu malam Minggu akupun dengan
Roni kawan kosku menginap di rumah dinas PLN ranting Tanjung Aur. Di sini aku
bertambah kenalan yakni dengan petugas PLN yang bertugas di sini juga warga
yang bermukim dekat kantor PLN Tanjung Aur ini. Petugas PLN berasal dari
beberapa daerah, sehingga dari obrolannya menjadikan wawasanku bertambah.
Asyiknya lagi ketika mereka melakukan kontrol jaringan listrik, akupun sering
diajak keliling menggunakan mobil dinas PLN. Dari cara petugas PLN
berkomunikasi dengan warga begitu akrab dan kelihatan akan keramahan warga
kampung sini menambah penilaianku terhadap warga sini yang ramah-ramah.
Pada suatu ketika aku sedang mengajar di kelas 6 (enam)
datanglah seorang warga yang berbadan tegap tinggi besar. Kedatangannya sempat
membuatku gemetar dan berkeringat dingin dibuatnya. Dia masuk dan mendekatiku,
rasa takut yang menghantui kutahan. Tiba-tiba dia berkata: “Pak, boleh aku
ngomong ke anak-anak...?” Akupun menjawab: “Silahkan pak...” Setelah
kupersilahkan akhirnya dia pun menyampaikan sesuatu kepada anak-anak:”Hai
dengarkan anak-anak..., kalian kalau ingin pintar perhatikan baik-baik ketika
pak guru mengajar. Jangan melawan...ikuti perintah pak guru, ya...!” katanya. “Auhhh (Iyaaa)” jawab anak-anak dengan
bahasa daerah secara serempak. “Pak guru...kalau ada anak yang bandel tolong
dimarah saja. Bapak jangan takut, sayo yang bertanggung jawab...” katanya
sambil sesekali menatapku. “Iya pak...” jawabku. Penyampaian agar aku tidak
segan memarahi anak-anak yang bandel didengarkan lansungn oleh semua siswa
kelasku.
Alhamdulillah, ternyata ada pemerhati dari masyarakat
pribumi yakni dengan adanya orang tua yang datang memberi motivasi kepadaku.
Setelah kutanya kepada Kepala Sekolah, ternyata orang tua yang datang tadi
bernama Abdul Ghoni tokoh masyarakat desa ini. Bapak Abdul Ghoni mempunyai
famili di Jakarta yang menjadi pengacara cukup terkenal. Yoki Oktovani adalah
anak Bapak Abdul Ghani yang datang ke kelasku tadi. Sejak kedatangannya,
menjadikan kelasku lebih terasa nyaman. Anak-anak yang tadinya tergolong
bandel, sekarang ada perubahan menjadi sebaliknya ketika ada anak yang ribut
dialah menjadi penegurnya. Keputusasaan yang pernah menimpaku ternyata telah
berlalu hampir lima tahun. Ternyata kita jangan mudah menyerah, apalagi putus
asa.
Berupaya Mengembangkan Diri
Dan akhirnya atas uluran tangan kakak angkatku yang
berdarah Cirebon beliau menyarankan aku untuk mengajukan mutasi ke daerah lain
yang memungkinkan aku bisa mengembangkan karier dengan kembali memasuki bangku
kuliah melanjutkan studi. Akhirnya aku dimutasikan ke SDN 1 Curup, salah satu Sekolah
Dasar tertua di Kabupaten Rejang Lebong ini. Kebetulan di kota dingin ini ada
cabang Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Akhirnya akupun melanjutkan studi di
Universitas Muhammadiyah Bengkulu cabang Curup. Belum berakhir petualangan
untuk berstudi, akupun melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya yakni Pasca
Sarjana di Universitas Bengkulu selesai 2009. Berbekal ijazah pasca sarjana inilah
akupun memberanikan diri melamar menjadi tutor di UT UPBJJ Bengkulu pokjar
Curup pada tahun 2012 dan diterima hingga sekarang masih dipercaya menjadi
tutor UT UPBJJ Bengkulu Pokjar Curup.
Sepuluh tahun mengabdi di SDN 1 Curup Kabupten Rejang
Lebong akupun selanjutnya diberi tanggung jawab tambahan oleh pemerintah daerah
menjadi kepala sekolah di SDN 06 Selupu Rejang sebuah sekolah di lereng gunung
berapi “Kaba”. Satu-satunya gunung yang masih aktif di provinsi Bengkulu. Karena
merupakan sekolah yang berada di kaki Gunung Api Kaba, maka pada penentuan
program sekolah yang diikuti 18 sekolah dari tingkat SD sampai SMA, sekolah ini
terpilih menjadi Sekolah Siaga Bencana (SSB) Percontohan Nasional program kerja
sama PMI dengan German Red Cross
(Palang Merah Jerman) pada tahun 2012. Setelah melalui beberapa program
pelatihan dari PMI dan GRC selama sekian bulan yang melibatkan stakeholder akhirnya sampai pada
puncaknya yakni launching SSB. Launching
SSB Percontohan Nasional dilakukan oleh Sekda Provinsi Bengkulu Bapak Asnawi
Lamat dan dihadiri Pengurus PMI pusat Bapak Muhammad Muaz mewakili Bapak Yusuf
Kalla yang tak bisa hadir, Wakil Bupati Rejang Lebong dan perwakilan German Red Cross (GRC) serta undangan
lainnya. Selama dua periode aku dipercaya oleh pemerintah untuk menjalankan
tugas tersebut. Akhirnya di akhir September tahun 2016 akupun dimutasikan kembali
menjadi guru di SDN 22 Rejang Lebong hingga sekarang.
Aku tak tahu apakah aku berdosa lantaran belum bisa atau
bahkan takkan bisa memenuhi keinginan almarhum kedua orang tuaku untuk
mengabdikan diri di kampung halaman hingga sekarang? Apakah aku yang belum atau
tak bisa memenuhi permintaan orang tua tergolong anak durhaka? Pertanyaan
seperti itu kerap menghantuiku. Yang ada kini tetap berusaha semaksimal mungkin
menjadi guru bagi anak didikku di sekolah, menjadi guru bagi ketiga anakku
tercinta Astrie Nurfadhilah, Ahmad Nur’afief, dan Ahmad Nur Rafiq dan Tri
Herawati isteriku. Aku ingin membalas kebaikan famili, tetangga, kerabat dan
pengurus agama desaku yang ketika ayah atau ibuku meninggal, merekalah yang
mengurusnya dibawah bimbingan Kyai Ikhsanuddin sekalipun tak akan sebanding. Setidaknya
berusaha melakukan kegiatan serupa dengan cara ikut andil semampuku dalam
mengurus jenazah warga sekitarku yang meninggal mulai dari memandikan,
mengafani, menyolatkan dan menguburkannya. Hal ini aku lakukan karena akupun di
daulat menjadi ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Miftahul Jannah di desa
tempat tinggalku bermukim sekarang. Sering terbayang ketika membantu petugas
agama mengafani, menyolatkan sampai menguburkan jenazah, beginilah orang-orang
kampungku mengafani, menyolatkan ataupun menguburkan almarhum ayah dan ibuku
ketika meninggal dunia dulu.
Semangat orang tua dalam mendorong dan membiayaiku dalam
menggapai cita-cita menjadi guru, terus memacu dan menjadi penyemangatku dalam
bergelut menjadi seorang guru. “The Power of Teaching”. Tema ini kembali
mengingatkanku akan pesan ayah almarhum:“Sapa
temen bakal tinemu”. Ternyata kini akupun bersyukur bisa bergabung dengan
penerbit “Man Jada Wajada” yang kalau boleh disamakan artinya dengan pesan
orang tuaku bermakna sapa temen bakal
tinemu (Barang siapa bersungguh-sungguh maka dia pasti berhasil). Insya
Allah...
Biodata Penulis
Basuki, lahir di Desa
Peniron Kec.Pejagoan Kab.Kebumen Jawa Tengah. Menempuh pendidikan dari jenjang
Pendidikan Dasar sampai Perguruan Tinggi, sebagai berikut: SDN Peniron I, SMPN
3 Kebumen, SPGN Kebumen (Jawa Tengah), DII Universitas Bengkulu, S1 Universitas
Muhammadiyah Bengkulu, dan Pasca Sarjana ditempuh Universitas Bengkulu.
Beralamat di Jln. Lingkar PP Nurul Kamal Desa Karang Jaya Kec.Selupu Rejang
Kab.Rejang Lebong Prov.Bengkulu. Berkarir sebagai tenaga pendidik sejak
September 1994 hingga sekarang. Di pertengahan September 2016 dipercaya
Pemerintah sebagai tenaga pendidik di SD Negeri 22 Rejang Lebong Provinsi
Bengkulu sebagai guru kelas hingga sekarang. Bersyukur bisa bergabung dengan
Diklat Penulisan Buku Antologi yang diselenggarakan oleh MJW Education dibawah
bimbingan motivator nasional Bapak Akbar Zainudin, sehingga bisa ikut serta
menulis Antologi ini dan termotivasi untuk belajar dan terus belajar menulis.
Terima kasih, semoga bermanfaat. Aamiin
